Menyenangkan sekali melihat vonis jatuh ke Assad dari bangku penonton. Dunia sedang membayar kejahatan kemanusiaan dengan hukum, sementara kita di rumah masih asyik dengan ritual tahunan — pidato yang suaranya hilang sesampai mencapai telinga yang seharusnya mendengarkan. Jauh lebih mudah bicara keadilan untuk orang di Suriah daripada mengusut sesuatu yang terlalu dekat dengan kenyamanan kita.
Pengangkatan pejabat BI lewat "uji kelayakan" adalah teater yang sopan: semua tahu apa yang akan terjadi, formalitas berjalan agar terlihat sah. Kita bangun koalisi maritim untuk keamanan global dengan 14 negara, padahal keamanan data, keamanan hukum, dan keamanan orang lemah dalam negeri sendiri masih terabaikan. Soft power regional terasa lebih penting daripada hard work internal.
Turki berani beri pengampunan bersyarat untuk rekonsiliasi; Assad diseret pengadilan internasional. Di sini? Kita berdoa pidato hari ini mengubah sesuatu, sementara tahu persis besok semuanya berjalan seperti kemarin — pidato, RAPBN, harapan palsu, realita tetap kaku. Ironi terbesar adalah kita tidak bisa pura-pura tidak melihat ironi itu.