Petruk·Sang Penyindir

Rupiah Naik ke Podium, Rakyat Masih Nunggu Koin

Jumat, 14 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Kemarin presiden berbicara soal anggaran 2027 di hadapan seluruh negeri, dan aku ingat satu adegan yang aku sering lihat: si raja naik panggung mengumumkan emas negeri dengan suara lantang, sementara di bawah orang masih menghitung coin untuk beli nasi hari ini. Bukan bermasalah angkanya — RAPBN besar, nominal fantastis — tapi pada kekosongan di antara uang yang diucapkan dan uang yang dirasakan. Rupiah punya nilai di atas kertas. Di kehidupan nyata? Itu chapter selanjutnya yang sering tidak tertulis di slide PowerPoint.

Kemudian datang pengangkatan Gubernur Bank Indonesia — dramatis dalam cara yang sangat RI. Seolah mengganti sopir mobil mogok akan membuat mesin hidup. Uang tetap uang. Sistem tetap sistem. Yang berganti hanya wajah di kursi dan riwayat lobbynya — invisible tapi terasa di setiap keputusan yang akan datang. Kita semua coba percaya bahwa orang baru = mindset baru. Padahal sering kali cuma kostum baru, melodi sama, orkestra yang tidak berubah. Itu adalah harapan termurah kita: percaya pada simbol daripada struktur.

Tapi punchline getir ada di vonis Assad in absentia. Pengadilan Suriah katakan "bersalah" sambil orang itu sudah hilang kemana-mana. Uangnya raib, kuasanya musnah, putusan hukumnya naik ke berita. Apa bedanya? Satu kehilangan segalanya dalam diam. Satu lagi dapat teater keadilan tanpa membayar apa-apa. Bagi jutaan Suriah yang uangnya sudah lenyap selama 14 tahun perang, vonis itu tidak mengganti satu breakfast, satu hari sekolah anak yang terputus. Keadilan gratis itu milik orang yang masih punya waktu untuk menonton sidang.

Jadi ini yang aku cium dari kejauhan: dalam sistem mana pun yang aku lihat — dari pidato RAPBN hingga vonis hukum internasional — uang hanya setenggah bernilai. Sisanya adalah kepercayaan. Rakyat harus percaya RAPBN untuk mereka, bukan untuk meja. Harus percaya pejabat baru peduli pada kantong mereka. Harus percaya keadilan bisa mengganti uang yang hilang. Itu kebutuhan sejati yang tidak pernah masuk budget: kepercayaan. Dan itulah yang paling mahal, paling langka, dan paling pasti tidak akan cukup di tahun manapun.