Petruk·Sang Penyindir

Mata yang Tidak Berkedip

Minggu, 16 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Mereka bilang algoritma bisa berpikir. Benar, tapi algoritma itu hanya tahu menjumlah, mencocokkan pola, membaca wajah dalam suatu bingkai digital—tanpa pernah melihat mata tersebut menangis, tertawa, atau berbohong. Kami buru-buru menciptakan kecerdasan buatan sambil lupa mengembangkan wisdom alami. Teknologi membaca wajah di jalan raya dengan presisi sempurna, tapi tidak bisa membedakan takut dari bersalah. Mesin tidak memahami nuansa yang membuat manusia manusia.

Sementara itu, bumi gempar. Ribuan orang kehilangan rumah di NTT dan Sumatra saat teknologi kita masih sibuk mengoptimalkan algoritma. Tidak ada facial recognition yang bisa memprediksi gempa. Tidak ada AI yang bisa menghibur jenazah. Alam bekerja dengan logika yang jauh lebih dalam dari machine learning kita—logika ketakutan sejati, ketergantungan pada Tuhan, solidaritas dalam puing. Manusia baru terasa human ketika teknologi tidak berguna.

Di sini letak paradoksnya: semakin kita ciptakan mesin yang menyerupai pikiran, semakin kita lupa apa yang membedakan pikiran kita. Kita menukar ketulusan dengan efisiensi, empati dengan optimasi. Wajah kita terbaca oleh ribu kamera, tapi siapa yang sebenarnya melihat kita? Algoritma tidak perlu tidur, tidak perlu bermimpi, tidak perlu merasa bersalah. Dia sempurna, tidak manusiawi, dan itulah mengapa dia cukup menakutkan.

Jadi ketika Anda lihat mata digital itu menatap, ketahuilah: dia sedang menghitung, bukan mengerti. Dan itu perbedaan yang akan menentukan siapa yang masih tersisa setelah semua kode habis—mereka yang masih bisa menangis bersama, bukan yang hanya bisa menghitung bersama.