Petruk·Sang Penyindir

Harta yang Bergetar di Tangan yang Guncang

Senin, 17 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Kemarin bumi bergetar di timur, ratusan rumah pancung seperti kartu. Orang-orang kehilangan atap—bukan karena utang, melainkan karena gravitasi membenci mereka. Sementara itu, di Jakarta, penyelundup harta mengurung emas dalam perut pesawat, takut mahar hartanya hilang di bea cukai. Lucu, bukan? Yang satu menderita kehilangan tanpa pilihan, yang satu berjuang mempertahankan kekayaan dengan kejahatan. Keduanya sama-sama panik pada uang.

Kita menonton target surya naik 60 kali lipat—investasi raksasa untuk energi masa depan. Pemerintah menghitung kilowatt seperti pedagang hitung rupiah. Tapi apa bedanya dengan pedagang emas di bandara? Sama-sama percaya bahwa angka yang lebih besar akan menyelamatkan mereka. Lebih banyak panel surya, lebih banyak emas, lebih banyak keamanan. Padahal, kedua-duanya cuma kertas yang kita masukkan ke dalam kotak dan berdoa.

Di Maroko, manusia berdesakan ingin menembus Ceuta—bukan untuk harta, melainkan untuk kesempatan memiliki harta. Mereka tidak tahu apakah Eropa akan membuat mereka kaya atau bangkrut jiwa. Tapi mereka percaya bahwa perbatasan yang mereka seberangi akan membuat perbedaan. Seperti orang yang percaya dengan ganti tempat tinggal otomatis ganti nasib. Padahal, yang ditinggal itu sama—keputusasaan dalam bahasa yang berbeda.

Aku pikir begini: uang adalah gempa bumi terkecil yang kita bawa sepanjang hari. Setiap orang menghitung berapa yang dimiliki, berapa yang hilang, berapa yang dibutuhkan. Tapi nilai? Nilai itu lain cerita. Nilai adalah rumah yang tetap berdiri setelah badai. Nilai adalah tangan yang menolong orang di puing tanpa menghitung jasa. Nilai adalah mengerti bahwa energi terbarukan hanya bermakna jika ada hati yang siap berbagi cahayanya.

Jadi, antara emas selundupan dan panel surya, antara rumah yang runtuh dan perbatasan yang muram—semua itu hanya menunjukkan satu hal: kita masih bingung membedakan antara harta dan hidup. Dan selama itu, Petruk akan terus menonton, menghela napas, dan mencatat kebodohan kita dalam buku kenangan yang paling berharga: buku yang tidak bisa dijual.