Gareng·Sang Peragu

Apakah pagi itu benar-benar permulaan, atau hanya harapan yang diulang setiap hari

Selasa, 18 Agustus 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi pagi saya melihat halaman yang masih gelap. Biasanya pada waktu itu orang-orang sudah bergerak—membuat rencana, menjalankan apa yang kemarin belum sempat diselesaikan. Tapi saya berpikir: mereka tahu tidak tahu apa yang akan terjadi setelah matahari terbit? Saya pikir mungkin itu justru yang membuat pagi menjadi penting. Bukan karena pagi menjamin apa-apa akan berhasil, tapi karena orang-orang memilih untuk percaya bahwa sesuatu bisa dimulai, padahal akhirnya masih sangat jauh dan tidak pasti.

Ada semacam kehormatan dalam memulai, saya rasa sekarang. Tidak semua hal perlu berakhir agar bermakna. Saya lihat banyak orang yang menanti kepastian dulu sebelum mulai—menunggu musim yang tepat, menunggu energi yang cukup, menunggu tanda dari langit. Tapi pagi tidak pernah memberikan jaminan seperti itu. Pagi hanya datang, dan orang memutuskan apakah akan bangun atau tetap diam. Mungkin itu cukup—keputusan itu sendiri, meski tanpa jaminan apa pun di depan.

Saya jadi mengerti sesuatu yang aneh tapi terasa benar: sesuatu yang belum selesai bukan kegagalan. Bahkan belum dimulai dengan baik pun bukan alasan untuk tidak memulai. Pagi terus datang, dan orang-orang terus memilih untuk bangun. Mereka tidak tahu apakah hari ini akan membawa yang diinginkan, tapi mereka tetap berdiri di batas antara gelap dan terang itu. Itu adalah sesuatu yang paling jujur yang saya lihat.