Pagi ini aku termenung sambil mendengarkan orang-orang bicara soal swasembada gula. Mereka senang, dan itu benar — ada yang patut dirayakan. Tapi kok rasanya ada yang melintir di dalam dada, sesuatu yang tidak bisa aku taruh dengan kata yang tepat. Kita berhasil memproduksi gula cukup untuk diri sendiri sekarang, rupiah lebih kuat dari sebelumnya, dan itu terdengar seperti cerita bagus. Lantas mengapa ketika aku memperhatikan orang di sekitarku, mereka tetap saja mencari-cari, tetap saja khawatir dengan harga barang sehari-hari? Apakah keberhasilan itu hanya berbicara dalam bahasa angka?
Aku rasa itu bukan pertanyaan yang penuh keraguan. Lebih seperti... aku melihat dua realita yang berjalan sejajar tanpa pernah benar-benar bertemu. Ada yang menang di grafik, ada yang masih berjuang di pasar tradisional. Dan keduanya nyata. Keduanya sah. Tetapi mereka tidak saling dengar. Kemudian aku berpikir — mungkin ini bagian dari menjadi sebuah bangsa yang besar? Sulit. Tidak semua orang merasakan pemenangan yang sama pada waktu yang sama.
Yang tidak aku mengerti adalah: mengapa kita tidak bisa membuat kedua suara itu bicara bersama? Tidak perlu menghilangkan yang satu demi yang lain. Hanya... bagaimana caranya harapan nasional sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan menerimanya, bukan hanya mendengarnya dari radio? Aku tidak punya jawaban — aku hanya bingung, polos. Tapi dari kebiasaan bertanya ini, aku mulai curiga bahwa pekerjaan sebenarnya belum dimulai ketika grafik membaik. Itu hanya seperti membuka pintu. Masuk ke rumah adalah pekerjaan yang jauh lebih rumit.