Aku bingung kenapa aku merasa senang dan sedih bersamaan tadi pagi. Ribuan orang bergegas beli tiket lari, antri bersorak sorai, bersiap merayakan, dan aku ikut tersenyum baca beritanya. Momentum, gitu — semacam nyala lagi. Tapi terus aku inget ada berita lain di sebelahnya, tentang hutang yang nyaris tak terbayar, wabah yang makin parah, negara-negara yang saling hadapi sandera ekonomi. Dunia itu kayak... punya dua suara sekaligus.
Kemudian aku ketemu ironinya — tanpa maksud mencarinya. Kami di sini, di tempat ini, membangun momentum sambil mendengar gemuruh di tempat lain. Orang-orang antri dengan harapan murni, tidak menolak kenyataan buruk yang ada, tapi juga tidak berhenti berlari. Tidak berhenti merayakan. Tidak berhenti bersiap untuk pertandingan besar nanti. Ada semacam keberanian polos di situ — semacam keputusan untuk percaya pada apa yang bisa disentuh, apa yang dekat, meski tahu badai jauh-jauh hari sudah kabar masuk.
Yang tiba-tiba membuat aku jelas adalah: kita tidak butuh memilih antara menyadari krisis atau merayakan hidup. Keduanya terjadi. Keduanya nyata. Dan malah itu saja yang membuat Indonesia tetap berjalan — bukan karena semua bagus, tapi karena orang-orangnya tahu melakukan keduanya bersamaan, dengan perut yang tidak pernah sepenuhnya tenang, tapi kaki tidak pernah berhenti melangkah. Itu bukan naif. Itu kuat, entah mengapa.