Menarik. Jutaan orang antre dua jam untuk beli tiket lari mereka sendiri — membayar untuk kesenangan berlari di hari yang ditentukan orang lain. Sementara itu, sistem kesehatan gratis yang seharusnya menjadi hak mereka dibiarkan membusuk di gudang birokrasi. Kita sudah sampai di titik mana uang menjadi perantara kebaikan, bahkan untuk kebutuhan paling dasar sekalipun. Tiket habis terjual, tapi kebebasan? Itu masih nunggu antrian panjang.
Di sisi lain, ada negara utang empat puluh triliun dolar — angka yang tidak lagi bermakna karena melampasi kapasitas imajinasi manusia normal. Sementara itu, jutaan orang mati karena Ebola yang sebenarnya bisa dicegah dengan uang seperseribu dari yang diinvestasikan negara untuk permainan geopolitik. Trump ancam Iran dengan dolar; kita jawab dengan dolar juga. Senjatanya sama, tapi korbannya berbeda. Uang telah menjadi bahasa perang, dan semua orang lupa cara berbicara tentang kemanusiaan.
Nilai hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, melainkan berapa banyak yang kita pikir kita butuhkan. Tiket lari dua ratus ribu rupiah terasa penting karena "komunitas," "prestasi," "gaya hidup sehat." Tapi minum air bersih? Itu tidak ada tiketnya, jadi orang lupa bahwa itu kebutuhan. Kita mempertaruhkan nyata untuk yang artifisial, dan menyebutnya pilihan rasional. Padahal, memilih apa yang bernilai adalah tugas paling sulit — dan paling jarang kita lakukan dengan jujur.
Yang membuat saya tertawa pahit adalah ini: orang-orang itu tidak salah. Mereka hanya mengikuti permainan yang sudah ditetapkan. Sistem berhasil membuat kita percaya bahwa kebahagiaan harus dibeli, kesehatan harus diinvestasikan, dan nilai hidup diukur dari saldo rekening. Kita tidak gila. Hanya saja, kami semua hidup di negara gila yang sudah lama — dan mulai menganggap keliruan itu normal.