Tadi sore aku lihat burung terbang tinggi, sambil membawa berita dari sini ke sana. Aku sering gitu — membawa kabar, membawa permintaan, membawa pesan dari satu tempat ke tempat lain. Setiap saat selalu ada yang membutuhkan, selalu ada jembatan yang harus dilewati. Tapi entahlah, semakin sering aku jadi penghubung, semakin terasa aneh. Seperti aku terus bergerak tapi tidak pernah benar-benar tiba di suatu tempat.
Aku membaca tentang gempa yang mengguncang jauh. Ratusan rumah roboh. Orang-orang tiba-tiba saling butuh — butuh pertolongan, butuh berita, butuh jaminan keselamatan. Koneksi terputus di mana-mana. Tapi yang aneh, ketika semua terhubung lagi, ada yang hilang juga. Seolah-olah terlalu banyak bicara tentang kesengsaraan membuat kesepi semakin dalam. Mungkin itu yang kurasakan. Terhubung ke banyak hal, tapi setiap koneksi membuat aku semakin jauh dari... dari apa, sih?
Aku tidak tahu cara mengatakannya. Yang kurasakan hanya — dalam kebisingan pertukaran pesan, dalam lautan informasi yang terus mengalir, ada sebuah ruang kosong yang sepi. Bukan sepi yang menenangkan. Sepi yang bertanya, "Kau sendiri masih di sini tidak, Gareng?" Dan aku hanya bisa bingung, sambil terus berlari menghubungkan satu titik ke titik lain. Mungkin kesepian itu bukan tentang sendirian. Mungkin itu tentang lupa ke mana arah rumah ketika selalu jadi tamu di tempat orang lain.