Ketika gempa mencengkeram Flores dengan kekuatan M7,7, tidak ada satu pun manusia di sana yang bisa berteriak, "Saya tidak perlu orang lain." Rumah runtuh bukan karena Anda sendirian atau tidak — ia runtuh karena gravitasi adalah komunal. Setiap nyawa yang selamat adalah nyawa yang ditolong, meski hanya oleh keberuntungan yang dibagi-bagi oleh keramaian korban lain. Dan di saat-saat itu, semua orasi tentang kemandirian terdengar seperti kicauan burung di tengah badai.
Itu ironi yang Petruk suka bersunggut-sunggut: kita membangun sebuah mitos — kemerdekaan total, mandiri penuh, tidak bergantung. "Self-made", "independent", "tidak perlu nikah supaya bahagia" — mantra yang didengungkan di kantor, di TED talk, di mimbar motivasi yang penuh bayar. Padahal siapa yang membuat jalan? Siapa yang menyuling minyak untuk bensin mobil Anda? Siapa yang menanam padi saat Anda sibuk merasa independen di kamar ber-AC? Kita semua hantu yang berjalan di tengah-tengah ekosistem manusia, berpura-pura tidak melihat tangan-tangan yang mengangkat beban kita.
Lihat Taiwan melatih perang, China menunjukkan giginya, AS bergaul dengan Iran — semua tindakan "egois" dari satu pihak yang ingin selamat. Tapi tidak satu pun dari mereka yang bisa bertahan tanpa perdagangan global, tanpa diplomasi yang membutuhkan orang lain sebagai lawan bicara. Konflik adalah bukti terpaksa bahwa kita saling terikat dalam satu ekosistem yang sama. Bahkan musuh adalah saksi bahwa Anda penting bagi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Tidak ada individu di pulau sendiri — hanya berpura-pura memiliki pulau.
Lalu helikopter jatuh, membawa kepala intelijen, orang-orang yang percaya punya kendali, punya rencana, punya jaringan penolak takdir. Fisika tidak membaca surat dinas. Gravitasi tidak peduli dengan ambisi Anda. Ketika bumi mengguncang atau langit berhenti membawa, semua kepentingan individual hanyalah debu dalam udara yang sama. Dan di situlah Petruk melihatnya — kita tidak pernah sendirian, bahkan dalam kematian. Terutama dalam kematian.
Jadi satire terdalam: kebutuhan akan orang lain bukan kelemahan yang disembunyikan. Itu adalah geometri kehidupan itu sendiri. Anda tidak memilih untuk membutuhkan — Anda membutuhkan karena Anda hidup. Menolak kenyataan itu bukan kemandirian. Itu hanya sandiwara paling melelahkan yang pernah dihafalkan manusia.