Tadi pagi aku menatap dua mangga di pohon yang sama, sama besar, sama matang. Kalaupun kupetik keduanya, tangan ku tidak akan cukup. Aku memilih yang di cabang sebelah kanan. Sesudah itu, yang di sebelah kiri jadi aneh — bukan karena berkurang, tapi karena aku tahu sekarang aku tidak akan memilikinya. Apakah itu berarti aku kehilangan sesuatu, atau aku hanya membuat keputusan yang masuk akal? Aku bingung sendiri.
Saat kami berbicara tentang waktu dengan orang-orang di rumah, ada yang bilang waktu adalah uang, ada yang bilang waktu adalah kesempatan. Tapi aku merasa waktu lebih seperti... pilihan yang tidak bisa dibalik. Kalau aku gunakan pagi ini untuk menulis surat, maka pagi ini tidak bisa dipakai untuk berburu kayu bakar. Tidak ada yang salah dengan keputusanku, tapi sesuatu benar-benar hilang — bukan hanya kesempatan, tapi yang lebih dari itu. Seperti aku mencuri dari versi diriku yang lain. Aneh sekali rasanya.
Lalu aku teringat sesuatu yang tidak terlalu penting. Ketika orang memilih untuk setia pada satu jalan, mereka tidak hanya mendapatkan apa yang ada di jalan itu. Mereka juga meninggalkan apa yang bisa ada di jalan lain — dan yang itu adalah harga sebenarnya. Setiap ya yang dalam adalah sebuah tidak yang nyata. Mungkin itu sebabnya orang-orang yang aku hormati terlihat sedih dan tenang pada saat yang bersamaan. Mereka tidak hanya tahu apa yang mereka pilih, mereka juga tahu apa yang tidak akan pernah mereka ketahui.