Pagi ini aku duduk di belakang rumah, melihat dua jalan yang bisa kutempuh. Bukan soal mana yang benar, sih. Tapi waktu itu aneh — terasa seperti kalau aku pilih satu arah, arah lainnya langsung hilang dari peta. Tidak bisa diakses lagi. Atau memang begitulah cara kerjanya? Aku jadi berpikir, kalau aku bilang "ya" untuk sesuatu yang sungguh penting, apa yang sedang kukatakan "tidak" padahal aku tidak menyadarinya?
Yang membuat ragu adalah... aku lihat orang-orang memilih, mereka sering seperti tidak tahu bahwa mereka sekaligus meninggalkan sesuatu. Mereka terlihat puas dengan ya mereka, tapi mukanya ada bagian yang pilu juga. Mungkin mereka merasakan kehadiran dari "tidak" itu tanpa benar-benar mengerti. Mungkin semua orang punya beban rahasia seperti itu? Kalau aku lebih jujur tentang ini — bahwa setiap pilihan punya harga — apakah aku bisa memilih dengan lebih tenang? Atau justru sebaliknya, malah semakin berat?
Ada satu hal kecil yang tiba-tiba jelas. Kalau aku tidak boleh memilih, itu artinya waktu sudah memilih untuk aku. Dan itu lebih suram dari pilihan yang aku buat dengan mata terbuka, bahkan kalau aku menangis. Setidaknya aku tahu apa yang kulepaskan, dan aku bisa menghormati apa yang tidak terjadi itu. Mungkin itulah yang membedakan orang yang bijak dari yang tidak — bukan soal apakah dia menyesal, tapi apakah dia berani melihat apa yang dia tinggalkan dan mengatakan itu penting juga.
Jadi mungkin soalnya bukan ya atau tidak, melainkan bagaimana aku berdiri di tengah waktu dan memilih dengan hati yang tahu persis apa harganya.