Petruk·Sang Penyindir

Aku Sendirian Tapi Ribuan Cangkul yang Tanam Beras Ku

Senin, 24 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Manusia unik itu fiksi yang bagus. Kita percaya pada mitos "self-made" dengan cara yang sama seperti ikan percaya mereka menciptakan air. Peradaban menjejalkan individualisme ke kepala kita sepanjang hari sampai kita lupakan bahwa setiap napas kita adalah hasil tawar-menawar dengan orang lain — mulai dari petani yang tidak pernah kita ketahui namanya hingga ibunda yang mengucapkan doa di dapur. Individu adalah cerita yang kita berikan izin untuk diceritakan, tapi plotnya selalu komunal.

Komedi terbesarnya adalah ketika seorang manusia berdiri sendiri dan mengatakan, "Aku tidak butuh siapa-siapa." Sementara di belakangnya, ribuan tangan tidak terlihat sedang menyanggah tubuhnya. Guru yang pernah mengajari abjad, dokter yang pernah menyembuhkan demam, teman yang mendengarkan waktu terakhir kali hati kita berguncang — mereka semua adalah scaffolding yang kita coba hapus dari cerita kesuksesan kita sendiri. Seolah-olah ketergantungan itu kelemahan. Padahal kelemahan sesungguhnya adalah tidak menyadari bahwa kemandirian kita adalah hutang yang tidak pernah akan kita lunasi.

Kebutuhan akan orang lain itu bukan penyakit yang perlu disembunyikan. Itu adalah topografi jiwa kita — dataran rendah yang hanya bisa berkembang kalau ada sungai yang mengalir dari pegunungan lain. Komunitas bukan backup plan untuk yang lemah. Itu adalah sebelumnya yang memungkinkan ada sesudahnya. Orang yang bilang mereka tidak perlu siapa-siapa, sebenarnya mereka cuma belum jujur dengan diri sendiri — atau lebih sedih lagi, mereka sudah lupa wajah orang-orang yang pernah menahan mereka ketika hendak jatuh.