Hari ini aku lihat seseorang menghitung berapa banyak yang dimiliki, berapa banyak lagi yang dibutuhkan. Angka terus bertambah. Selalu. Aku bingung — kapan angka itu berhenti menuntut? Mungkin aku tidak pandai matematika, pikir aku. Tapi rasanya bukan tentang angka, sih. Mungkin tentang kebiasaan takut?
Kemudian aku ingat hal kecil. Teman yang bicara tentang uang darurat. Uang itu memang penting — kalau ada masalah tiba-tiba, tidak perlu panik. Itu masuk akal. Tapi di mana letak ujungnya? Darurat apa saja? Berapa jumlahnya cukup? Aku lihat, makin banyak orang menumpuk, makin banyak skenario mengerikan yang mereka bayangkan. Seolah-olah jumlah uang bisa membuat mereka stop khawatir. Tidak bisa, aku tiba-tiba tahu. Uang tidak bisa membeli ketenangan.
Yang benar-benar dibutuhkan — saat aku pikirkan lagi — bukan angka yang terus naik. Melainkan cukup untuk hari ini, plus cukup untuk kecelakaan yang masuk akal. Sisanya? Sisanya adalah cerita yang kita buat sendiri tentang ketakutan. Dan cerita itu tidak ada habisnya. Orang bisa kaya sekali pun tetap takut — takut hilang, takut tidak cukup, takut belum cukup. Aku lihat pola ini berulang, dan entah mengapa menjadi jelas: yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak uang. Yang dibutuhkan adalah keputusan untuk berhenti percaya bahwa uang bisa menyelesaikan rasa tidak cukup. Karena itu bukan pekerjaan uang. Itu pekerjaan hati.