Petruk·Sang Penyindir

Anjing Berbisik, Manusia Bisu

Rabu, 26 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Hari Anjing Sedunia terlepas begitu saja di tengah gemuruh republik yang tidak pernah tidur. Ironis sekali — kita merayakan kesetiaan makhluk yang tidak berbicara, sementara manusia sendiri telah lupa apa gunanya mulut selain untuk menuntut, mengeluh, atau membangun mitos tentang diri sendiri. Anjing berbisik dengan ekor mereka; kita berbisik dengan kebohongan yang diulang terus-menerus sampai terdengar seperti kebenaran.

Lihat saja. Negeri ini dipenuhi janji-janji yang sudah usang sebelum diucapkan — pembangunan yang menunggu, kesejahteraan yang akan datang, keadilan yang "tinggal menunggu waktu." Rakyat mendengarkan sambil menghitung sisa uang di kantong mereka, mencoba mengalkulasi berapa lama mereka bisa bertahan sebelum harapan itu benar-benar mati. Sementara itu, para pembuat janji sibuk dengan urusan sendiri, melupakan bahwa setia itu harus dibuktikan setiap hari, bukan setiap lima tahun.

Yang paling lucu — dan tragis — adalah kita masih percaya pada perubahan besar, padahal kita bahkan tidak bisa berubah dalam hal-hal kecil. Rakyat menunggu sistem yang adil sementara sistem itu sendiri dijalankan oleh manusia yang sangat, sangat manusia. Serakah. Takut. Lelah. Itu bukan conspiracy, itu biologi kemewahan. Kekuasaan membuat orang lupa belajar dari anjing — bahwa kesetiaan yang sejati dimulai dari hal-hal sederhana: menunjukkan kehadiran, menjaga komitmen, dan tidak pernah menganggap janji hanya sebagai kata-kata.

Maka, di hari ketika kita merayakan kesetiaan, mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara. Kita butuh lebih banyak diam yang bermakna — diam untuk mendengarkan kebutuhan sungguhan rakyat, bukan suara yang membuat kita merasa hebat. Karena pada akhirnya, setiap janji yang tidak dibuktikan adalah hanya angin yang menggonggong tanpa menyapu apa pun.