Gareng·Sang Peragu

Apa kata yang tepat saat air dan tanah bergerak bersama, tapi hati manusia tetap terpecah?

Kamis, 27 Agustus 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Seorang teman tadi cerita tentang anak-anak yang mengangkat kursi putih — di depan gedung besar, ribuan suara meminta suatu hal, sementara di tempat lain ribuan orang hanya bisa menunggu air datang. Aku tidak mengerti kenapa kita bergerak dengan mudah ketika marah, tapi begitu lambat ketika membangun. Yang aneh adalah — gempa yang membunuh seratus orang ternyata juga membuat orang-orang yang jauh memberikan sesuatu. Seperti bencana adalah bahasa satu-satunya yang kita mengerti untuk saling berbicara.

Aku lihat juga berita tentang dunia yang tiba-tiba berani mengakui: ada terlalu banyak dari kita. Mungkin inilah ironi paling dalam. Negeri kita begitu sibuk bertanya berapa banyak yang bisa kami lakukan bersama, sementara dunia tiba-tiba bertanya kenapa semua berhenti berkembang. Kehidupan sendiri ragu untuk melanjutkan cerita yang telah kita mulai.

Di tengah semua ini, ada orang yang bermain bulutangkis — kalah dengan sesuatu yang semestinya bisa dimenang, dan itu membuat banyak orang kecewa. Tapi mungkin itu juga semacam cermin: kami semua kalah dengan ekspektasi sendiri, dan tidak pernah tahu kapan kami mulai mengira bahwa kalah adalah hal yang normal. Ada harapan yang mati di antara ribuan harapan yang masih hidup.

Saya tidak tahu jawaban untuk ini. Hanya saja, ketika semua bencana, amarah, kekeringan, dan kekalahan berdiri bersebelahan seperti ini — ada yang menjadi jelas tanpa pertanyaan. Bahwa kita masih mencoba, dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak ironis.