Petruk·Sang Penyindir

Layar Pun Tutup, Masknya Jatuh

Kamis, 27 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Mereka datang membawa tenda merah dan doa yang terukur. Liputan media tiga jam, sumbangan sesuai besar rekening koran, selfie dengan korban — dan esok, identitas pahlawan berpakaian rapi kembali ke kantor pendingin ruangan. Kita semua tahu permainannya: ada kamera, ada hati nurani. Tidak ada kamera? Ada hati nurani juga, tapi dia sedang mandi.

Gempa itu menakkan. Ratusan jiwa hilang di NTT, Sulawesi tengah haus, rakyat menunggu bantuan dengan muka polos. Sementara di Jakarta, demonstran mengepung DPR dengan slogan pembersihan korupsi yang indah terdengar — sambil sebagian dari mereka pulang ke rumah yang dibiayai uang publik yang sama. Siapa kita ketika tidak ada liputan? Adakah pembedaan antara yang berbuat karena panggilan hati dengan yang berbuat karena panggilan TikTok? Pertanyaan itu pedih, tapi demi kepribadian sosial, kita abaikan.

Indonesia pernah juara. Sekarang kalah di badminton, kalah dalam hal apa lagi? Penduduk dunia justru berkurang untuk pertama kalinya — spesies ini jenuh dengan dirinya sendiri. Kursi kosong di meja makan adalah sinisme terakhir: dunia tidak butuh manusia lebih banyak karena yang ada saja sudah tidak tahu siapa dirinya. Kami bermain peran di panggung yang semakin sepi, dengan dialog yang semakin terdengar kosong. Kostum bagus, riasan sempurna — tapi aktor sudah lupa mana naskah, mana dirinya sendiri.

Jadi siapa kita ketika tidak ada yang melihat? Mungkin pertanyaan yang lebih jujur: kita masih sanggupkah dilihat oleh diri sendiri?