Tubuh bilang: udah cukup, istirahat. Pikiran dengar: belum cukup, lanjut. Setiap hari itu perdebatan murahan dengan arbitrator yang paling tidak bisa dipercaya — diri sendiri.
Lelah itu bukan alasan, tapi tubuh sadar lelah itu satu-satunya bahasa yang bisa membuat pikiran diam sebentar. Jadi tubuh memberontak kecil-kecilan — nyeri sini, pegal sana — berharap pikiran capek mendengarkan permintaan maaf. Tapi tidak, pikiran paling jahil: tertawa dan lanjut masukkan target baru.
Yang paling konyol? Keduanya tahu ini tidak berkelanjutan. Tapi terus saja dimainkan seperti pertunjukan wayang yang naskahnya sudah usang, tinggal dalang tidak mau nyerahin bonekanya.